17 Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit.
18 Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus.
19 Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus.
20 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.”
21 Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”
22 Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?
23 Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah?
24 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”
25 Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.”
-------------------------------------------
Dalam bacaan di atas, da dua hal yang menarik bagi saya .
Percaya akan Tuhan takkan ada yang mustahil
Bacaan tersebut mengajarkan kepada kita bahwa apabila kita sungguh-sungguh berusaha dan berpasrah kepada Allah, pasti membuahkan hasil yang terbaik. Orang lumpuh menggambarkan seseorang yang sudah tidak punya harapan. Cerita mengenai naik ke atap menunjukkan usaha yang sangat keras yang sudah dilakukan dan meletakkannya di hadapan Yesus mengandung arti memasrahkan semuanya kepada Allah.
Sering kali kita mengeluh karena meskipun kita sudah berusaha keras namun belum mendapatkan hasil yang kita harapkan. Ini biasa kita alami terutama apabila dalam usaha tersebut kita tidak melibatkan Tuhan, kita tidak mohon campur tangan Tuhan. Apabila kita memasrahkan segala karya kita kepada Tuhan, maka apapun hasilnya pasti akan kita syukuri. Rasa syukur akan membangkitkan rasa puas.
Tak jarang kita mengeluh bahwa kita sudah berusaha keras dan menyerahkan uasaha kita kepada Tuhan, namun masih belum puas akan hasilnya. Menurut pendapat saya, mungkin kita kurang pasrah dan kurang percaya kepada Tuhan. Tuhan pernah bersabda, "Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." Ayat ini sungguh menyentuh hati saya dan mengingatkan saya secara pribadi bahwa kepercayaan saya akan Tuhan masih sangat jauh dari sempurna. Apapun hasil karya kita kalau kita percaya bahwa itulah hasil terbaik yang Tuhan berikan kepada kita, maka semua hasil tersebut akan terasa indah dan cukup.
Orang lumpuh yang diletakkan di hadapan Yesus, melambangkan kepasrahan dan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam bila kita myerahkan segala kesulitan dan permasalahan kita kepada Tuhan. Orang-orang tersebut tidak perlu banyak berkata-kata di hadapan Yesus, hanya memasrahkan saja, tentunya dengan keyakinan penih, maka Tuhan akan memberikan yang terbaik, karena Tuhan tahu yang kita butuhkan.
Hidup tolong menolong akan menyelamatkan
Kisah beberapa orang yang membawa orang lumpuh ke hadapan Yesus, mengajarkan kita perlunya membangun sikap saling menolong. Dalam hal ini, orang lumpuh dapat saya ibaratkan sebagai orang yang tersesat dari jalan Tuhan. Tidak tahu jalan kembali kepada Tuhan. Hadirnya orang-orang yang membawanya ke hadapan Yesus mengajak kita untuk juga peduli kepada orang lain yang kehilangan arah. Ajakan untuk menunjukkan arah bagi orang yang tersesat dari jalan Tuhan.
Kita dapat membanu orang lain dengan mengenalkan kepada Yesus, mendoakan, dan menyerahkannya kepada Tuhan. Biarlah Tuhan yang akan berkarya kepada saudara kita yang tersesat. Doa-doa dan pertolongan kita sangat dibutuhkan karena orang yang sudah telanjut tersesat sering kali tidak dapat melihat lagi jalan mana yang harus ditembuh. Menjadi kewajiban kita untuk menunjukkan jalan kebenaran bagi orang lain.
Itulah dua hal yang dapat saya petik dari perikop tersebut di atas. Mari kita tingkatkan keyakinan kita akan Allah. Tuhan memberkati.
Komentar
Posting Komentar